Laman

Selasa, 13 Juli 2010

MENGUAK WISATA SEX THAILAND

Menguak Wisata Sex di Thailand Bagikan 07 Juni 2010 jam 5:47 Empat Miliar Pendapatan Thailand Disokong Industri Seks” dan Maraknya industri seks di Thailand adalah buah dari kemiskinan alam akibat kerusakan ekologi dan sulitnya akses ekonomi akibat sentralisasi pembangunan. Memang Kebijakan Thailand untuk pengembangan ekonomi yang hanya terfokus pada tourism (Pariwisata), sebab pariwisata merupakan industri utama yang menghasilkan trilyunan rupiah. Salah satu pelayanan dalam industri ini adalah seks komersil. Namun, akibat iklim ekonomi yang melambat, jumlah turis yang berkunjung ke Thailand atau mencari pekerja seks komersil kian menurun. Pasti Wanita Penghibur-{WP/ Istilah untuk Pekerja Seks Komersial} disana lagi jual murah. Sebelum lebih jauh kita ungkap tentang Wisata Sex di Thailand, ada baiknya kita tahu dulu sisi transportasi menuju negeri gajah putih tersebut. Thailand memiliki bandara internasional di Bangkok, Chiang Mai, Chiang Rai, Phuket, Hat Yai dan U-Tapao (Pattaya). Anda tinggal pilih beberapa paket perjalanan wisata banyak penerbangan yang menawarkan tiket dengan harga menarik, misalnya dari Jakarta-Singapura-Thailand, atau Jakarta – Kuala Lumpur – Thailand. Anda bisa tanyakanlah pada biro perjalanan atau maskapai penerbangan tentang paket-paket yang tersedia. Kalau masalah penerbangan yang menuju Thailand dari Indonesia: ada banyak pilihan seperti : * Thai Airways * Garuda Indonesia * Singapore Airlines * Kuwait Airlines * Royal Brunei * Malaysia Airlines * Valuair/Jetstar * Air Asia * Silk Air Di pesawat kami menanti keberangkatan menuju Thailand yang terkenal dengan julukan “entertainment” in Thai (seks no.1) South Pattaya katanya banyak pemandangan menarik. Jam tangan kami menunjukkan pukul 14.00 dan menurut pengalaman sih sekitar 45 menit akan nyampe di Bandara Internasional Phuket. Dan benar perkiraan kami. Tak sabar Setelah mendarat, kami turun dari pesawat dan langsung dihadapkan sama whole different language. Booking Hotel Langkah pertama kita setelah sampai adalah mencari hotel. Kita langsung merapat pada agen hotel yang memang banyak terdapat di dalam Bandara. Sesuai petunjuk para sesepuh2 kita memilih nginep di area Patong Beach (Kalo di Bali, kayak daerah Pantai Kuta-nya gitu), tepatnya Bel Aire Resort kita booking 2 malam sekitar 800 Baht.1 Baht itu sekitar 300 Rupiah. Setelah dapet tempat nginep, kita jalan keluar. Untuk ke daerah Patong Beach, kita memutuskan untuk naik Taxi Meter. Sayangnya antrian lumayan dan armada taksinya kurang. Terpaksa kita duduk di emperan sambil nunggu taksi dateng. Tarifnya 420 Baht dari Bandara sampai ke Patong Beach. Patong Beach Area 20 menit beralu taksipun datang. Mata kami memandang cuaca hari ini yang kata si sopir taksi udah 3 hari mendung terus dan hujan rintik. Kami masih semangat meski cuaca mendung. Tapi kami tetep excited. Kami semangat naik ke taksi, dan taksi pun meluncur membelah jalanan Phuket. Phuket ini berbukit-bukit Sebenarnya di Thailand sama Indonesia gak jauh beda. Perjalanan ini mengingatkan kami waktu dari Gilimanuk ke Denpasar. Cuma bedanya di sini melewati beberapa kuil yang khas Thailand. Taksi menaiki tanjakan lagi dan berliku agak tinggi, tapi di ujungnya, seperti pencerahan, kami bisa melihat hamparan gedung dan PANTAI. Akhirnya… setelah satu jam perjalanan kami tiba juga di daerah Patong Beach! Daerah Patong Beach – Thailand sampai di Andaman Resort Check in dan berkhayal bisa langsung Istirahat. Ternyata kami harus berjuang Naik Tangga. Sebab Di hotel ini tidak ada lift dan gue harus manjat dengan backpack gue ke kamar di lantai 3. Di seberang jalan Soi Sansabai tempat kami menginap, ada gedung Thai Boxing yang menarik perhatian karena berwarna pink ngejreng. Setiap beberapa menit sekali, sebuah mobil box yang membawa petinju-petinju Kick Boxing yang telanjang dada itu, akan lewat sambil ribut mengumumkan jadwal pertandingan. di sebelah gedung Thai Boxing, ada jalan gede yang namanya Bang La Road. Dalam persepsi kami, itulah tempatnya. Di situ gemerlap banget Kami jadi ingin melihat dari dekat ada apa di situ. Rasa lelah tak terasa setelah melihat isinya…wow pantes deh Kalau Thailand itu identik dengan wisata seks, Di Bang La Road ini, semua hal yang mustahil kami lihat di Jakarta (or anywhere else in the world), terlihat dengan jelas. Bar-bar terbuka menampilkan wanita-wanita yang menari di atas meja dengan mengundang. Belum lagi godaan para she-male alias banci yang rata-rata pada cantik banget (jauh lebih cantik dari saya deh pokoknya :) ). Trus cewek-cewek di sini pake bajunya nggak ada yang lebih dari bahan satu meter alias kurang bahan. Minuman keras dan tubuh wanita di sini menjadi hal yang wajar banget. Esoknya Penelusuran pun di mulai Saya dan teman2 berada di tengah jalan besar di daearah Patong. Ada ratusan turis yang berlalu lalang, dan banyak orang yang minum bir. Selain itu ada beberapa perempuan, pasangan, orang lokal Thailand dan banyak orang asing yang beberapa di antaranya jalan bersama perempuan Thailand. Malamnya kami bergegas ke resor pantai terbesar di Phuket. Ratusan bar berjejer di pantai ini. Dalam setiap bar itu puluhan pekerja seks menunggu sambil asyik mendengarkan hingar bingar Musik ala Thailand yang juga terdengar di Patong. Sebut Saja Namanya “MELINA” karena nama Aslinya susah untuk kami ucapkan :) Kami menemui Melina, sebut saja begitu, salah satu pekerja seks komersil di Patong. Ia mengenakan baju biru yang sangat pendek dan sepatu hak tinggi. Sebelumnya kami lihat ia mencoba mengajak para turis yang berlalu lalang masuk dan minum-minum bersama dia di bar. Ia agresif karena penghasilannya tergantung dengan berapa pelanggan yang ia bisa layani. Tarif nya tergantung Short Time ( ST) or Long Time ( LT ). Kalo LT 1000 baht atau hampir 350 ribu rupiah. Itu harga yang sangat murah ketimbang di negara lainnya Sedangkan ST 500 Bath sekitar 150 ribu. Murah khan Bro. bandingkan aja sama Indonesia. WP disini usianya sekita 20 tahunan dan diantaranya udah merit. Ada yang janda n katanya masih punya suami. Bahkan suaminya juga ikut menjadi agen buat dirinya. WP/ Wanita Penghibur di sini menjadi tulang punggung keluarga dan anak-anak mereka. Biasanya yang sudah punya suami karena suaminya tidak memiliki pekerjaan, atau sedang merantau untuk bekerja dinegara lain. Jadi para perempuan ini harus merawat bayi mereka. Mereka akan lakukan apa saja untuk merawat saudara2 mereka, orang tua atau anak mereka yang sakit. Bagi para pekerja seks komersil, tak mudah melakukan apa saja untuk tetap bertahan hidup. Sekilas mendengar cerita nya menyedihkan ya? Jadi gak tega nih ngasih 300 ribu LT ,… :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar