Laman

Senin, 07 Maret 2011

KPK SEGERA SELIDIKI KASUS KORUPSI PENERIMAAN CPNS DI KERINCI

BERITA KERINCI




Ditulis oleh fyo

SUNGAIPENUH - Mahasiswa dan pelajar Kabupaten Kerinci kembali menggelar aksi demonstrasi, kemarin (23/2). Aksi demonstrasi dilakukan secara terpisah. Mahasiswa dari PMII menggelar aksi di gedung DPRD Kerinci. Pelajar menggelar aksi di SMA Negeri 1 Air Hangat, Kabupaten Kerinci.
Aksi yang digelar di DPRD Kabupaten Kerinci, kemarin siang itu nyaris ricuh. Pasalnya, keinginan mahasiswa untuk menggelar pertemuan dengan dewan, guna mempertanyakan janji dewan membentuk pansus dugaan kecurangan tes CPNS Kerinci, dihalang-halangi Satuan Polisi Pamong Praja. Bahkan, terjadi aksi dorong-mendorong di depan pagar masuk dewan.

Karena tidak berhasil menemui anggota DPRD Kerinci tersebut, mahasiswa melempari gedung DPRD Kerinci dengan telor busuk, serta membakar sebuah spanduk di sebuah tiang bendera.

”Kami ke sini ingin menuntut janji pimpinan DPRD Kerinci tentang pembuatan Pansus CPNS tahun 2010 pada aksi tanggal 5 Januari 2010 lalu. Tapi, janji itu tidak dipenuhi dewan. Hingga sekarang, dewan tidak membuat Pansus CPNS,” ujar Rinaldi, Ketua PMII Cabang Kerinci.

Sementara itu, di SMA Negeri Air Hangat, sebanyak 891 siswa melakukan unjuk rasa yang meminta supaya Kepala Sekolah Yasril Isril dicopot dari jabatannya. Salah satu tuntutan siswa supaya kepsek diganti, karena diduga melakukan korupsi dan banyak melakukan pungutan di sekolah tersebut. Akibat aksi tersebut, aktivitas belajar mengajar dihentikan.

Mat Seri, Kadis Pendidikan mengatakan, atas kejadian aksi tersebut, pihaknya akan segera turun ke SMA Negeri Air Hangat. Bahkan adanya keinginan siswa untuk menurunkan kepala sekolah tidak disetujuinya. ”Kita akan turun ke sekolah dan meminta supaya aktivitas belajar mengajar dilanjutkan kembali. Tidak ada istilah pencopotan kepsek melalui demo,” terangnya. (fyo)

KPK Selidiki Dugaan Korupsi Penerimaan CPNS

image

Jakarta, CyberNews.
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengaku mencium indikasi tindak pidana korupsi dalam penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) di sejumlah institusi dan pemerintah daerah. Karena itu, KPK melakukan penyelidikan terkait dugaan ini.
"Di pemerintah pusat dan daerah, di beberapa pemkab (pemerintah kabupaten). Sudah masuk penyelidikan," kata Wakil Ketua KPK Mochammad Jasin usai diskusi di Hotel Nikko, Rabu (9/2).
Dia enggan menjelaskan penyelidikan dilakukan pada institusi atau pemerintah daerah mana. Dia khawatir, mengungkapkan banyak informasi dapat mengganggu proses penyelidikan. "Kita sekarang kedap (rahasia), nanti mereka akan tahu kalau diintai. Sekarang sedang proses, jangan ditanya dulu ya," ujarnya.
Namun saat ditanya apakah pemerintah daerah di Jawa Tengah termasuk melakukan penyelidikan, Jasin menegaskan, ''sudah masuk (penyelidikan).''
Ditanya soal modus yang dilakukan dalam penerimaan CPNS, Jasin menegaskan, praktik yang dilakukan adalah suap dan pemerasan. ''Dua-duanya (suap dan pemerasan),'' kata Jasin.
Selama ini, pengumuman hasil CPNS di instansi pemerintah, khususnya di daerah seringkali diwarnai unjuk rasa karena dituding beraroma suap. Januari lalu, unjuk rasa penolakan hasil rekrutmen CPNS ini terjadi di beberapa daerah, antara lain Kabupaten Buton Sulawesi Tenggara, Kabupaten Kerinci Jambi dan Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Mahendra Bungalan / CN16 / JBSM


Meluas, Demo Ribuan Massa Tuntut Bupati Kerinci Mundur

Ribuan massa di Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi yang berunjuk rasa, Senin, menuntut Bupati setempat, Fauzi Siin agar mundur dari jabatannya berakhir rusuh dengan merusak Gedung Nasional dan menghancurkan mobil dinas Sekretaris Daerah (Sekda).

Unjuk rasa massa berakhir rusuh itu, karena DPRD setempat yang berkantor sementara di Gedung Nasional Kerinci kurang menyambut aspirasi yang disampaikan mereka.

Misalnya menuntut Bupati Fauzi Siin mengundur diri dari jabatannya, karena diduga terlibat kasus korupsi anggaran APBD, dan tidak peduli terhadap nasib guru, Pegawai Negeri Sipil (PNS), dan petani.

Awal kerusuhan itu terjadi ketika ribuan massa itu berusaha memasuki Gedung Nasional, dan bertindak anarkhis, sehingga sempat membuat aparat keamanan memberi peringatan tembakan ke udara, namun tidak diindahkan.

Koordinator Lapangan (Korlap) unjuk rasa di Kabupaten Kerinci (berjarak sekitar 419 Km dari arah barat Kota Jambi) itu, mengatakan, aksi mereka tersebut murni menuntut ketidakberpihakan Pemkab Kerinci kepada rakyat, dan tidak ada kaitannya dengan politik setelah pilkada pekan lalu.

Sementara itu, Kapolres Kerinci, AKBP Sunarman Sumirat mengatakan, hingga malam ini anggotanya masih siaga di lokasi kejadian, untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diingini.

"Meski kami berhasil meredam tindakan dan membubarkan ribuan pengunjukrasa, namun petugas keamanan masih disiagakan untuk mengantisipasi kejadian yang sama," katanya.

Tidak korban jiwa dalam aksi kerusuhan massa itu, namun sejumlah kaca Gedung Nasional pecah, dan mobil dinas Sekda Kerinci mengalami kerusakan.


Demo CPNS Kerinci Ricuh

KERINCI–Aksi Demo Mahasiswa menuntut dibentuknya pansus CPNS Kerinci di DPRD Kerinci kemarin (5/01) ricuh. Ratusan Mahasiswa yang terdiri dari PMII, HMI, Gempur, IMM BEM STIT dan BEM STAIN Kerinci datang ke DPRD Kerinci sekitar Pukul 10.00 wib, untuk menuntut DPRD Kerinci membentuk Pansus CPNS Kerinci. Mahasiswa yang terdiri dari berbagai organisasi mahsiswa ini mencoba memasuki kawasan DPRD Kerinci namun dihadang oleh aparat keamanan yang terdiri dari pihak Sat Pol PP dan pihak Kepolisian dari polres Kerinci, adu mulut tidak bisa dihindari akhirnya mahasiswa mencoba menembus brikade pihak keamanan dengan mendorong pintu pagar depan.

Sementara mahasiswa yang lain berusaha memasuki Ruang Kantor DPRD Kerinvi melalui pintu samping dengan memaksa masuk sehingga terjadi saling hantam antara Pol PP dengan mahasiwa, namun hal tidak berlangsung lama.

Ketua PMII Kerinci Rinaldi mengatakan bahwa kami dari PMII Kerinci menuntut tiga hal pertama soal CPNS Kerinci, hasil audit BPK tahun 2009, dan proyek fiktif 2010. “Tiga hal itu tuntutan kita, dan kita minta yang pertama adalah dibentuknya Pansus CPNS tahun 2010, jika terbukti kita minta Dewan mendesak bupati Kerinci mundur,”tegasnya.

Menurut Mahasiswa perekrutan CPNS Kerinci serat dengan permainan uang hingga ratusan juta lebih, dan itu sangat merugikan bagi orang-orang yang punya kemampuan tetapi tidak punya uang. “ Untuk apa kuliah, kalau yang lulus CPNS hanyalah orang yang punya uang,”tegas Rinaldi.

Hal itu menurut Rinaldi semuanya sudah terbukti dengan adanya beberapa nama yang sudah diatas usia 35 tahun tetapi masih lulus CPNS, sementara itu kelulusan CPNS 2010 masih diwarnai dengan banyaknya anak pejabat yang lulus dan mayoritas dari wilayah Siulak. “ ya Murasman bupati Kerinci bukan Bupati siulak,”tegas orator aksi. Tidak hanya itu mahasiswa yang tergabung di beberapa organisasi mahasiswa ini mengacam akan tidur di lapangan DPRD Kerinci bila tidak selesai pansus dibentuk. “Kita akan menunggu sampai pansus terbentuk, dan kami akan melakukan aksi demo ini hingga tiga hari berturut.”sebut Rinaldi lagi.

Mahasiswa yang bernaung dibeberapa organisasi mahasiswa ini bergerak dari sekretariat masing seperti Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) bergerakan dari sekretariat di jalan Depati Parbo nomor 38 Sungaipenuh dengan berjalan kaki menuju gedung DPRD Kerinci. Sementara Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Kerinci juga bergerak dari sekretariat HMI Cabang Kerinci, dan Badan Eksekutif mahasiswa (BEM) BEM STIT dan BEM STAIN Kerinci, bergerak dari kampus masing-masing dengan menyuarakan hal yang sama yakni dibentuknya Pansus CPNS Kerinci oleh DPRD Kerinci.

Situasi yang sempat terkendali kembali memanas saat mahasiswa mengetahui Bupati Kerinci meninggalkan gedung DPRD Kerinci melalui pintu belakang karena menolak bertemu dengan mahasiswa. “ya, Bupati Kerinci keluar lewat pintu belakang karena ada urusan lain,”ujar salah seorang staf Bupati Kerinci.

Sehingga emosi mahasiswa yang sudah lama menunggu didepan kantor DPRD Kerinci yang menunggu Bupati Kerinci tidak terpenuhi, sehingga mahasiswa berusaha menghadang Bupati Kerinci yang ingin meninggalkan DPRD Kerinci.

Suasana kembali ricuh saat mengetahui mahasiswa yang ingin bertemu Bupati dihadang oleh aparat keamanan sehingga terjadi saling dorong antara petugas degan mahasiswe bahkan saling kejar dengan pihak keamanan yang terus menghalangi mahasiswa. Untuk diketahui, demontrasi yang digelar mahasiswa di Kantor DPRD Kerinci dengan 700 masa, terdiri dari PMII, HMI, IMM, Gempur, BEM STAIN, dan BEM STIT. Mendapat pengawalan ketat aparat keamanan, dengan menerjunkan dua Pelton Satpol-PP, 200 Aparat Kepolisian, dan dua Pelton TNI. Hal ini diungkapkan Kapolres Kerinci, AKBP Hastho Rahardjo melalui Kabag Ops, Kompol Budi S.

“Sesuai surat pemberitahun yang disampaikan kepada kita, masa berjumlah 500 orang. Namun, pantauan di lapangan, jumlah masa sekitar 700 orang. Sementara keamanan, Satpol-PP sebanyak dua Pelton, 200 Polisi (80 Berseragam), dan dua Pelton TNI,” jelas Budi. Ketika ditanya, apakah kehadiran TNI atas permintaan Polisi? Budi mengatakan “TNI turun bukan permintaan Polres, itu sebagai bentuk antisipasi,” pungkas Kabag Ops.(Jambi Ekspres)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar